Pages

STUDI USAHA KECIL DAN MENENGAH KONVEKSI INDRAPURA DI PURWOKERTO

STUDI USAHA KECIL DAN MENENGAH KONVEKSI INDRAPURA DI PURWOKERTO

TUGAS MATAKULIAH AKUNTANSI KUKM





Oleh:
1. FITRIA CANDRANINGRUM C1C007032
2. BAYU FAJAR P.H C1C007035
3. INDRA AJI .P C1C007046
4. KHOERUL BADISYA C1C007073
5. RIANDASA A.F C1C007080
6. FAJAR KURNIA I.S C1C007089
7. SUKMA NURWIBAWA C1C007127
8. RIKI VANADISYA C1C007135
9. YUFRIANTO DIONO C1C007139


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI
PURWOKERTO
2009
A. PENDAHULUAN
Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dahulu dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat, pada saat ini ternyata bisa dijadikan sebagai altenatif peluang bisnis yang cukup menjanjikan dan tahan akan terpaan krisis ekonomi secara langsung. Hal ini dapat dilihat dari semkain banyak dan menjamurnya UKM yang didirikan di lingkungan sekitar masyarakat. Walaupun hanya didirikan dengan modal yang sangat terbatas, namun usaha seperti ini teryata mendapat reaksi positif dari pasar sehingga perputaran pendapatannya pun lebih cepat. Hal ini mendorong kontinuitas usaha agar dapat tetap survive dalam persaingan bisnisnya.
Agar usaha dapat bertahan dalam persaingan maka dibutuhkan suatu keunggulan bisnis yang dapat membedakan dari pesaing-pesaing lainnya. Keunggulan tersebut dapat dilihat dari segi harga, lokasi bisnis yang strategis, penjualan produk yang sesuai dengan permintaan pasar, serta promosi yang gencar dilakukan.
Untuk lebih memahami persaingan dalam bisnis, kami melakukan survei pada perusahaan konveksi dan design interior Indrapura yang merupakan salah satu usaha yang bergerak dalam bidang manufaktur ( mengolah bahan setengah jadi menjadi bahan / barang jadi ).








B. PEMBAHASAN
1. Profil UKM
Indrapura konveksi berdiri pada tahun 1980-an oleh H. Moh. Zainuddin. Indrapura konveksi terletak di Jalan Gunung Muria nomor 861, RT 1 RW 8, Desa Grendeng, Purwokerto Utara.
Saat ini Indrapura mempunyai 25 karyawan yang dikepalai oleh pimilik yang bernama Tri Widiantor, ST dan Ibu Urip. Karyawannya terdiri dari karyawan produksi, desain grafis, dan administrasi.











Gambar 1. Struktur Organisasi




2. Proses Produksi
Pertama kali berdiri usahanya hanya meliputi penyablonan. Namun saat ini, usahanya telah berkembang menjadi usaha konveksi (t-shirt dan jaket), pembuatan souvenir (gelas), percetakan serta pembuatan spanduk. Bahan baku untuk t-shirt dan jaket yang digunakan beragam jenisnya. Bahan baku dibeli dari daerah Bandung karena harganya jauh lebih murah daripada di Purwokerto dengan kualitas bahan yang sama. Untuk kain spanduk dan gelas/ mug dibeli dari Purwokerto.
Indrapura memproduksi barang berdasarkan pesanan. Hal yang pertama kali dilakukan adalah proses pemesanan yang dilakukan oleh pelanggan. Setelah terjadi kesepakatan mengenai harga antara pemesan dan produsen (usaha mitra) maka dibuat faktur pemesanan yang berisi jumlah barang yang akan dibuat, harga satuan, harga total beserta design/pola contoh yang diinginkan oleh pelanggan (konsumen). Kemudian bahan untuk membuat kaos/ jaket tersebut diambil dari gudang penyimpanan yang letaknya agak jauh dari tempat produksi.
Bahan kemudian dipotong sesuai dengan pola yang diinginkan oleh pelanggan/ konsumen. Kain yang telah dipotong tersebut kemudian disablon lalu dipres agar hasil sablonan menempel benar. Hal yang pertama kali dilakukan dalam proses penyablonan adalah pembuatan design kemudian difilmkan untuk pembagian warna. Lalu design tersebut dicetak. Proses penyablonan pada t-shirt dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan warnanya. Setelah disablon, kain diobras kemudian dijahit. Pemasangan kancing dan aksesoris lainnya dilakukan jika konsumen menghendaki adanya kancing/ resleting/ aksesori lainnya.
Seperti halnya pada proses penyablonan t-shirt, hal yang pertama kali dilakukan adalah pembuatan design. Design tersebut kemudian diprint pada kertas khusus dan penyablonan dapat segera dilakukan. Penyablonan untuk warna gelap dilakukan dengan menggunakan tinta karet sedangkan untuk warna yang lebih terang dilakukan dengan menggunakan medium yang transparan.
Penyablonan dalam bentuk huruf maupun angka pada spanduk dilakukan seperti halnya penyablonan pada mug. Namun pada proses penyablonan spanduk design dicetak ke kertas chasing dengan pemberian obat khusus. Alat yang digunakan untuk menyablon juga lebih sederhana.
Penyablonan dalam bentuk gambar lebih sulit daripada penyablonan dalam bentuk huruf maupun angka. Kesulitannya dalam proses pembuatan film. Setelah difilmkan design dicetak ke kertas chasing kemudian dilakukan penyablonan.












Diagram alur proses produksi jaket dan kaos
























Diagram alur proses produksi souvenir (gelas/ mug)






Diagram alir proses produksi spanduk
• Untuk penyablonan dalam bentuk huruf/angka (penyablonan yang mudah)






• Untuk penyablonan dalam bentuk gambar (penyablonan yang relatif sulit)









3. Indentifikasi Masalah KUKM
A. Bidang Permodalan
Indrapura memulai usahanya dengan modal pribadinya, karena ini adalah usaha perorangan. Saat ini modal yang dimiliki sudah besar, hal ini dibuktikan dengan peralatan yang lebih modern dan jumlahnya yang relatif besar juga dan kemampuan perusahaan menghasilkan omzet per bulan yang sudah mencapai kurang lebih Rp. 100.000.000,00.
Permasalahan yang dihadapi oleh mitra adalah dalam hal tertib administrasi. Karena merupakan usaha keluarga, tertib administrasinya kurang. Misalnya faktur pemesanan, catatan pengambilan barang dari gudang, bukti kas keluar dan bukti kas masuk yang tidak tercatat dengan baik, sistem pencatatan yang belum terkomputerisasi, pembebanan biaya kegagalan produk,dll.
Kendala lain yang sering dihadapi oleh mitra adalah masalah piutang dagang. Oleh karena sistem jual-beli yang dilakukan oleh mitra adalah sistem trust (kepercayaan) sehingga terkadang tidak ada perjanjian antara pihak penjual (mitra) dengan pembeli/pemesan maka seringkali masalah piutang ini menjadi kendala. Seringkali ada pembeli/pemesan yang tidak melunasi utangnya, karena piutang itu sendiri tidak dicatat dengan baik dan tidak ada batas waktu akhir pembayaran piutang, sehingga sulit sekali untuk dikontrol. Untungnya, hal tersebut tidak mengakibatkan kerugian yang signifikan.
Kondisi peralatan produksinya saat ini sudah cukup modern dari saat pertama kali berdiri. Ini dibuktikan dengan adanya mesin jahit yang, mesin obras, mesin overdeck, mesin karet, mesin press, mesin lubang kancing, mesin afdrek, alat sablon, triplek media, dan mesin mug.

B. Bidang Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi kaos dan jaket berasal dari kota Bandung. Pertimbangan pemilik memilih membeli bahan dari kota Bandung ini adalah karena harga kain di Bandung jauh lebih murahdan mempunyai kualitas yang cukup baik daripada di Purwokerto, dan bahkan tidak ada kain di Purwokerto yang harganya bisa lebih murah dibandingkan dengan di Bandung. Harga kain beragam sesuai dengan jenis bahan dan kualitasnya.
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi souvenir gelas, berasal dari Purwokerto saja, karena bidang produksi ini bukan yang utama di Indrapura konveksi, sehingga untung yang dicari dari usaha ini pun tidak terlalu maksimal.
Bahan baku untuk kain spanduk juga diperoleh dari Purwokerto, karena pertimbangan harga yang relatif sama dan tidak jauh berbeda dengan yang lain, juga karena kain spanduk jenisnya lebih sedikit dibandingkan dengan kain yang dipakai untuk baju (t-shirt) atau jaket.

C. Bidang Sumber Daya Manusia
Pegawai yang bekerja di Indrapura adalah pegawai borongan. Ada 2 pegawai tetap yang digaji yaitu designer grafis. Kendala penggunaan sistem borongan adalah uang yang harus dikeluarkan mitra untuk membayar pegawai mempunyai hubungan yang berbanding lurus yang bersifat linier dengan jumlah barang, karena pegawai borongan dibayar berdasarkan banyaknya jumlah barang yang dipesan. Permasalahan yang timbul karena hal ini terasa apabila pesanan meningkat. Pada saat pesanan sedikit tidak menjadi masalah karena mitra mengeluarkan uang tidak terlalu besar. Namun, pada saat pesanan meningkat mitra harus mengeluarkan biaya upah yang lebih besar.
Lain halnya apabila sistem kepegawaiannya dilaksanakan dengan sistem gaji (pegawai tetap). Berapa pun jumlah barang yang diproduksi, mitra hanya harus mengeluarkan uang sebanyak gaji seperti biasa, tidak mengalami penggelembungan biaya upah saat produksi meningkat. Dengan keadaan seperti ini mitra dapat menurunkan harga jual barang.
Sebenarnya pegawai yang ada saat ini, dapat dikatakan adalah pegawai yang tetap di Indrapura konveksi, namun sistem gaji yang mereka terima adalah borongan, sesuai volume pesanan tertentu yang didapat, misalnya untuk 1500 potong baju, seorang pegawai digaji sebesar Rp. 1.000.000,00 maka biaya pokok per potong baju itu sudah pasti tetap dan tidak dapat dikurangi..
Sedangkan dari sudut pandang sumber daya manusia untuk sistem akuntansi yang baik, pencatatan belum dapat dilakukan dengan komputerisasi dan masih menggunakan konsep matching yang masih sederhana yaitu membandingkan pendapatan dan beban saja, karena kesulitan kondisi di UKM milik perseorangan, yang segalanya serba trust dan cenderung tidak mau repot. Padahal pemilik sendiri juga sudah menyadari perlunya sistem tata buku yang lebih baik, untuk mengurangi tingkat kesalahan dalam pencatatan.

D. Bidang Manajemen Produksi
Indrapura konveksi merupakan UKM bidang konveksi yang jumlah kapasitas produksinya relatif besar, hal ini bisa dilihat dari jumlah pesanan yang masuk, yang diterima oleh mitra dan kemampuan mitra untuk menyelesaikan pesanan itu oleh pegawai yang dibayar dengan sistem borongan untuk suatu besaran volume tertentu.
Dilihat dari segi kualitas produk, mitra dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang cukup baik, karena tenaga pekerja yang sudah ahli dan terbiasa untuk menerima pesanan dalam jumlah besar, selain itu tinta yang digunakan oleh mitra mempunyai kualitas yang baik bertaraf import yang tidak dimiliki oleh konveksi lainnya, sekalipun juga tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan produksi, yang mungkin terjadi pada waktu pemotongan pola, maupun sablonnya. Namun besar presentase kesalahan itu tidak signifikan.
Biaya ataus kerugian yang diakibatkan oleh karyawan dalam proses produksi seluruhnya ditanggung oleh mitra dan tidak dibebankan kepada karyawan, akan tetapi walaupun sistem reward and punish tidak diterapkan mitra hal itu tidak mengurangi kualitas yang didapat atas produknya.
E. Bidang Pemasaran
Lingkup Pasar mitra bukanlah outlet, distro maupun toko-toko walaupun ada sebagian kecil yang dipasarkan di tempat tersebut. Namun, pasaran utamanya adalah borongan dari suatu perusahaan atau instansi serta club tertentu.
Mitra tidak pernah menyediakan/mengeluarkan biaya untuk sarana promosi atau pemasaran, karena pemesan tersebut yang sendiri datang ke mitra. Sarana pemasarannya adalah dari mulut ke mulut, karena biaya promosi tidak dianggarkan dan cenderung di fokuskan kepada biaya produksi dan usaha mitra ini sudah berjalan selama kurang lebih 20 tahun, sehingga sudah dikenal oleh masyarakat dengan baik, dan pesanan yang datang itu pun tidak hanya untuk memesan baju, jaket atau penyablonan, namun juga usaha mitra ini sangat banyak menerima pesanan pembuatan/cetakan spanduk, reklame, dan souvenir gelas.
Market Share dari mitra sudah mencakup Purwokerto bahkan sudah mencapai Tegal. Hal ini dibuktikan dengan adanya pesanan khusus dari daerah tegal.

F. Bidang Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah
Pengelolaan limbah/sisa bahan di Indrapura sudah cukup baik. Bahan kain sisa hasil produksi tidak dibuang, namun ada pihak yang secara langsung mengambil sisa kain tersebut dan membayarnya kepada mitra. Sebenarnya sisa bahan kain tersebut dapat diubah menjadi barang yang lebih bernilai, misalnya dibuat keset atau kerajinan yang lain. Namun, mitra lebih memilih menjual sisa-sisa tersebut dengan alasan karena sudah adanya orang yang dapat menampung sisa bahan itu dan membayarnya, sehingga mitra tidak repot untuk mengurus limbahnya, walaupun limbahnya biasanya mitra gunakan kembali sebagai bahan kaos dan jika pegawai menginginkan sisa bahan baku tersebut, pegawai diperbolehkan untuk mengambilnya.
4.Analisa SWOT
Strength
Bahan baku terutama tinta memiliki kualitas tinggi yang membedakan dengan konveksi yang lainnya, karena tinta yang digunakan adalah tinta yang langsung diimpor dari jepang. Selain itu, konveksi ini berorientasi kepada pelanggan dan sudah cukup banyak memiliki pelanggan setia. Dalam pengelolaan SDM nya, mitra lebih cenderung menggunakan result control dan hal itu terbukti dengan kualitas yang tetap terjaga.


Weakness
Mitra dalam hal pengelolaan keuangan masih belum terbiasa ter-komputerisasi jadi untuk melakukan peramalan dan perhitungan target keuangan masih terbatas dalam pengelolaan datanya. Dalam hal pemasaran, mitra belum melakukan promosi secara efektif hanya masih mengandalkan promosi dari mulut kemulut baik oleh mitra maupun para pelanggannya oleh karena itu masih sulit untuk menjangkau pasar yang luas. Selain itu, mitra masih belum berani membuka cabang baru untuk melakukan ekspansi usaha. Dalam hal lokasi usaha, mitra belum dapat memaksimalkan potensi lokasi yang sebenarnya dapat dikatakan strategis terutama dalam pasar yang berorientasi mahasiswa.
Opportunity
Mitra lebih cenderung berorientasi kepasar instansi dan perusahaan-perusahaan yang terkait karena dianggap lebih potensial dalam menerapkan orientasi pelanggan.
Threat
Mitra kurang peka dalam berkompetisi dengan para pesaing dalam hal meraih konsumen baru sehingga omset yang diperoleh tidak mengalami kenaikan secara signifikan dan kecenderung stagnan. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang lebih agar pelanggan yang sudah ada tidak beralih ke pesaing mitra dan hal itu sangat menuntut manajemen kualitas yang baik.

5. Pencatatan
Dalam Pencatatan Akuntansi Indrapura tidak menggunakan sistem komputerisasi, karena alasan mitra tidak mau direpotkan dan mitra merasa pencatatan manual lebih dirasa aman dan terpercaya. Untuk dasar pengenaan harga, digunakan harga perolehan ditambah biaya-biaya yang dikeluarkan sehingga barang tersebut siap untuk dijual sesuai pesanan konsumen.



6. Analisis Keuangan

a. Penjualan

a. Penjualan/pendapatan untuk produksi dalam 1 bulan = Rp. 100.000.000
(pendapatan rata-rata untuk baju, jaket dan spanduk)
b. Laba Persentase 10% ( sebelum dikurangi biaya-biaya = 20%)
Laba = Penjualan – Modal Kerja
= Rp. 100.000.000 – Rp. 90.000.000 = Rp. 10.000.000
b. Rasio keuangan

1. NPV
NPV =
=
= 1,11
Karena NPV lebih besar dari 1 maka bisnis konveksi ini menguntungkan dan dapat diteruskan.
2. Profit Margin
Profit Margin =
=
= 10%




C. PENUTUP
a. Kesimpulan
Indrapura konveksi yang dijalankan oleh H.Moh.Zainuddin yang berdiri dari tahun 80-an. Saat ini Indrapura mempunyai 25 karyawan yang dikepalai oleh pimilik yang bernama Tri Widiantor, ST dan Ibu Urip. Indrapura memproduksi barang berdasarkan pesanan. Indrapura memulai usahanya dengan modal pribadinya, karena ini adalah usaha perorangan. Saat ini modal yang dimiliki sudah besar, hal ini dibuktikan dengan peralatan yang lebih modern dan jumlahnya yang relatif besar. selain itu, Mitra mempunyai kelebihan dan kelemahan dalam usahanya ini.
b. Saran
1. Mulai melakukan pembukuan yang lebih rapi dan rinci agar dapat melakukan peramalan dan penilaian terhadap biaya dan pendapatan secara tepat.
2. Lebih mengefektifkan promosi terutama dalam hal meraup pasar potensial.
3. Melakukan ekspansi usahanya dengan membuka cabang baru.
4. Merekrut SDM yang terlatih dan ahli dalam bidangnya.
5. Biaya kegagalan produksi sebaiknya dipersentasekan terhadap beban gaji agar memenuhi fungsi result and punishment dalam melaksanakan result control.

1 komentar:

Kementerian Keuangan mengatakan...

terima kasih, salam sukses...

Software Akuntansi